Sabtu, 03 Maret 2012

Sejarah Sosiologi Pendidikan

A. Awal kemunculan Sosiologi
Sosiologi lahir dari seorang ahli filsafat bangsa Perancis yang bernama August Comte !978-1857). Comte telah banyak menulis buku yang berisi pendekatan-pendekatan untuk mempelajari masyarakat. Ktertarikannya untuk menulis buku-buku mengenai masyarakat berawal ketika ia mengamati perubahan social yang terjadi di Perancis pada abad 17 yang dikenal dengan nama revolusi Perancis.
Setelah melakukan penlitian-penelitian terhadap masyarakat diwujudkan dalam buku-buku, Comte berpendapat bahwa setiap penelitian yang dilakuakn melaui tahap-tahap tertentu akan mencapi tahap terakhir, yaitu tahap ilmiah. Begitu juga halnya dengan penelitian-penelitian yang ia lakukan kepada masyarakat juga memasuki tahap ilmiah dimana tahap penelitian tersebut meningkat menjadi suatu ilmu tentang masyarakat. Ia menamakannya “Sosiologi”, yang berasal dari kata Latin “socius” yang berarti “kawan” dan kata Yunani “logos” yang berarti “kata” atau “berbicara”. Jadi, Sosiologi artinya “berbicara mengenai masyarakat”. Comte pun kemudian dikenal sebagai “bapak Sosiologi”.

B. Pelopor Dan Tokoh Sosilogi Pendidikan
Berdasarkan sejarah lahir dan berkembangnya sosiologi pendidikan, ia merupakan disiplin ilmu yang relatif masih muda. Untuk mencari tokoh dan pelopor belum ada standar yang memadai, oleh karena itu yang dimaksud dengan pelopor dan tokoh sosiologi pendidikan disini, hanya didasarkan pada para ahli sosiologi yang mempunyai perhatian dan komitmen yang tinggi terhadap pendidikan. Tokoh dan pelopor pendidikan tersebut, diantaranya:
1. Lester Frank Word (1841-1931)
Lester Frank Word dianggap sebagai salah seorang pelopor sosiologi di Amerika Serikat. Sebagai tokoh sosiologi, ia telah berhasil merumuskan tujuan sosilogi, yaitu membentuk suatu sistem sosiologi yang akan menyempurnakan kesejahteraan umum manusia. Dengan tujuan tersebut, maka sosioogi adalah ilmu yang mempelajari apa yang dilaksanakan manusia. Word membagi sosiologi menjadi pure sociology (sosiologi murni) dan applied sociology (sosiologi terapan). Pure sociology adalah sosiologi yang mempelajari dan meneliti asal dan perkembangn gejala-gejala sosial, sedangkan Applied sociology adalah sosiologi yang mempelajari perubahan-perubahan dalam masyarakat karenausaha-usaha manusia. menurutnya, kekuatan dinamis dan gejala-gejala sosial adalah perasaan.
Menurut ST. Vembriarto, Lester Frank Word dapat dianggap sebagai pencetus gagasan lahirnya sosiologi pendidikan. Sumbangan Word dalam dunia pendidikan adalah idenya tentang evolusi social, dimana Word menekankan peranan pendidikan seorang yang realistis dalam memimpin perencanaan kehidupan pemerintahan. Menurut Word, bahwa manusia dapat menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dan manusia itu mengarahkan perubahan social ke arah pencapaian tujuan.
2. Emile Durkheim (1858-1971)
Durkheim adalah ahli sosiologi pendidikan, tetapi sebelumnya kita perlu mengetahui bahwa dia adalah ahli sosiologi. Pandangan penting Durkheim dalam bidang sosiologi adalah tentang pembagian sosiologi, diantaranya:
1. Sosiologi umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia
2. Sosiologi agama
3. Sosiologi hukum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi sosial, perkawinan dan keluarga
4. Sosiologi tentang kejahatan
5. Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja
6. Demografi yang mencakup masyarakat perkotaan dan pedesaan
7. Sosiologi estetika
Durkheim memusatkan perhatian di bidang sosiologi dalam dua hal: pertama, fakta-fakta sosial, kedua solidaritas sosial. Dalam hal fakta sosial, Durkheim berpendapat bahwa kita hidup di dalam suatu dunia, fakta-fakta sosial yang berada diluar diri kita dan yang membatasi perilaku kita. Dalam bidang solidaritas sosial, ia berpendapat bahwa untuk solidaritas masyarakat modern telah berubah dari masyarakat mekanis menjadi organis. Di bawah solidaritas mekanis, perilaku individu ditentukan oleh suara hati kolektif, yaitu tradisi dan kepercayaan masyarakat. Di bawah solidaritas organis, yaitu ketergantungan kita satu sama lain.
Pandangan sosiologi Durkheim diatas, sangat mempengaruhi pandangan tentang pendidikan. Dia mengatakan bahwa masyarakat keseluruhan dan beserta masing-masing lingkungan sosial di dalamnya, merupakan sumber penentu cita-cita yang dilaksanakan lembaga pendidikan.
Pandangan Durkheim tentang pendidikan ini menekankan bahwa pendidikan bukanlah hanya satu bentuk, tetapi bermacam-macam. Dengan demikian, masyarakat secara keseluruhan beserta masing-masing lingkungannya akan dapat menentukan tipe-tipe pendidikan yang diselenggarakan. Adanya berbagai ragam jenis dan jenjang pendidikan menurut Durkheim sebagai sarana untuk memenuhi salah satu hak asasi manusia, yaitu pendidikan. Pendidikan adalah hak semua orang dan juga sebagai sarana bagi kaum miskin untuk meningkat menjadi pimpinan masyarakat.
C. Sebab – Sebab Lahirnya Sosiologi Pendidikan
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat sebab subyek sekaligus obyek pendidikan adalah manusia. Manusia hidup, tumbuh, dan berkembang bukan disekolah, melainkan dimasyarakat. Apa yang telah terjadi dimasyarakat sangat mempengaruhi perkembangan di sekolah dan demikian juga sebaliknya. Tugas utama sekolah yaitu mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang lebih baik dan berguna. Salah satu faktor yang menjadi penunjang tugas sekolah adalah faktor sosiologi. Yang menjadi pertanyaan sekarang, hal apa yang menyebabkan munculnya sosiologi pendidikan? Jawabannya adalah karena tiga hal: pertama, perkembangan masyarakat yang sangat cepat sehingga terjadi berbagai cultural lag, kedua, merosotnya peran guru, ketiga,perusahaan interaksi antar manusia.
1. Perkembangan Masyarakat yang Sangat Cepat
Sifat masyarakat adalah berubah, dan perubahan ini pasti akan dialami oleh masing-masing manusia selama proses hidupnya. Gillin menyikapi perubahan adalah suatu variasi dari cara- cara hidup yang diterima, yang disebabkan oleh perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan, material, komposisi penduduk, ideology, maupun karena adanya difusi atau penemuan baru dalam masyarakat tersebut. Definisi ini lebih menekankan terhadap penyebab perubahan yang dapat terjadi dari segi- segi internal maupun external. Sedangkan menurut pendapat Selo Sumardjan, perubahan social adalah segala perubahan terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola-pola prikelakuan diantara kelompok – kelompok dalam masyarakat. Sasaran perubahan social bila didasarkan terhadap definisi ini adalah nilai- nilai social, norma social, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, kekuasaan dan wewenang, interaksi social, dan sebagainya.
2. Faktor Guru
Guru adalah motivator, administrator, informator, instruktur, dan sebagaimana dalam mendidik dan mengajar peserta didik melalui proses pembelajaran. Tugas berat di pikul oleh seorang guru untuk membangun generasi baru yang bermoral dan berprilaku jujur, mulia, dan bermartabat demi masa depan bangsa dan Negara melalui proses pendidikan. Hakikat guru sebagai figur yang digugu dan ditiru, memiliki kepribadian luhur yang dapat mempengaruhi suasana kelas, sekolah, dan kehidupan dimasyarakat. Perilaku atau tingkah laku guru disekolah yang berbentuk proses pembelajaran, interaksi sesama guru, dengan murid, dengan kepala sekolah, dan dengan pegawai sekolah, memerlukan perhatian dan pembinaan khusus.
Dalam perkembangannya, guru mengalami perubahan- perubahan yang kurang kondusif untuk kepentingan pembinaan dan pengarahan kepada murid. Ada guru yang bertindak hanya sebagai pengajar dalam kegiatan belajar dan mengajar. Guru hanya dapat mentrasfer pengetahuan (transfer of knowlwdge), sehingga mengabaikan nilai-nilai humanis yang sangat diperlukan siswa. Guru belum bisa memberi contoh dan suri tauladan bagaimana bertindak dan berucap kepada siswanya. Tindakan-tindakan guru kerap kali melanggar nilai dan etika social, seperti berjudi, kurang disiplin, bertindak keras, tidak adil, bahkan berbuat asusila terhadap siswanya. Permasalahan guru yang seperti ini berkaitan erat dengan masalah pribadi guru, sehingga lembaga pendidikan tidak mampu mengatasinya. Sehingga, para ahli sosiologi mengembangkan pikiran-pikirannya untuk memecahkan masalah guru tersebut dengan melahirkan sosiologi pendidikan.

3. Motivasi Pendidikan
Menurut Schoorl sebagaimana dikutip oleh Sudarwan danim dalam bukunya Agenda Pembaharuan Sistem pendidikan berpendapat bahwa praktik- praktik pendidikan merupakan wahana terbaik dalam menyiapkan SDM dengan derajat moralitas tinggi . Schoorl memberikan nilai sekolah yang lebih baik dalam membentuk moral siswanya, sehingga pendidikan sejati adalah proses pembentukan moral masyarakat beradab, masyarakat yang tampil dengan wajah kemanusiaan dan pemanusiaan yang normal.
Tugas dan fungsi sekolah diatas belum sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Dalam kehidupan social masih terdapat fenomena mengerikan tentang penyimpangan etika dan moral social. Di Amerika Serikat antara tahun 1902-1992, pemahaman remaja akibat tindakan pemburuhan meningkat sebesar 228% . Dekadensi moral remaja ini berawal dari pergeseran paradigma peserta didik disekolah. Di Amerika Serikat tabiat pelajar sudah berjalan lebih dari 50 tahun.
Sekolah sebagai institusi, ikut bertanggung jawab atas pembentukan moralitas anak didik. Pada saat kondisi moralitas masyarakat makin tidak berbentuk, sekolah-sekolah harus melakukan prakarsa reformatif untuk membenahi moral anak didik. Selama ini sekolah telah berusaha untuk memperbaiki sistem moralitas sekolah, akan tetapi sekolah saja tidaklah cukup. Sebab membangun kesederhanaan untuk tetap berada dalam tataran sopan santun, beradab, dan bermoral menjadi tugas semua orang. Para ahli sosiologi sangat menaruh perhatian terhadap pendidikan moral. Dengan sumbangan- sumbangan pemikiran sosiologis, para sosiolog ikut serta membangun moralitas pendidikan, sehingga munculah sosiologi pendidikan

D. Sejarah Perkembangan Sosiologi ( fase-fase, madzhab-madzhab)
Bouwman membagi perkembangan sosiologi dalam 4 (empat) fase, yaitu: (fase: tingkatan waktu)
 Fase pertama, dimana sosiologi sebagai bagaian dari pandangan tentang kehidupan bersama secara filsafat umum, terutama tentang Negara, hukum, dan moral yang tersimpul dalam kaidah-kaidah etika / keagamaan. Pada fase ini sosiologi merupakan cabang filsafat,maka namanya adalah Filsafat Sejarah atau Filsafat Sosial. Di antara filsuf-filsuf yang membicarakan tentang kemasyarakatan adalah Plato dalam bukunya berjudul politea (Republik) yang mengatakan bahwa Negara harus memelihara keadilan sebagai kewajiban yang tertinggi. Selanjutnya Aristoteles dalam bukunya berjudul politic mengatakan bahwa Negara harus mewujudkan nilai-nilai susila dalam masyarakat. Sedang menurut pandangan pandang Thomas Aquinas, hokum duniawi yang dijamin pelaksanaannya oleh Negara itu berasal dari hokum Tuhan, yang didukung dan dilindungi oleh gereja. Karena itu menurut kodratnya Negara harus tunduk kepada gereja. Jadi kekuatan duniawi harus tunduk kepada rohaniah.
 Dalam fase kedua, timbul keinginan- keinginan untuk membangun susunan ilmu berdasarkan pengalaman- pengalaman dan peristiwa-peristiwa nyata (empiris), bukan hanya hasil renungan saja, dan memisahkan alam pikiran secara lambat laun dari ajaran gereja. Salah seorang tokoh fase ini adalah Machiavelli yang berpandangan realis. Menurut pendapatnya, Negara harus terpisah dari gereja. Untuk mewujudkan cita-cita ini maka segala cara harus ditempuh. Selanjutnya, Thomas Hobbes mengatakan bahwa yang menggerakan manusia itu adalah hasrat untuk mempertahankan diri dari dan memperbaiki kehidupan, sebagai perwujudan yang wajar dari keakuan (egoisme).
 Sosiologi pada fase ketiga, merupakan fase awal dari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Orang mengatakan bahwa Comte adalah “bapak sosiologi”, karena ialah yang pertama kali mempergunakan istilah sosiologi dalam pembahasan tentang masyarakat. Sedangakan Saint Simon dianggap sebagai “perintis jalan” bagi sosiologi. ia bermaksud membentuk ilmu yang disebut “psyco-politique”. Revolusi Industri di Inggris dan Revolusi Perancis menimbulkan keadaan masyarakat yang baru. Kehidupan kenegaraan dan ekonomi bersifat masal, banyak segi-seginya yang tak tetap, sehingga Saint Simon bermaksud mengorganisasikan keadaan masyarakat itu menjadi suatu bentuk pergaulan hidup yang lebih sempurana. Dengan ilmu tersebut Saint Simon dan juga Comte mengambil rumusan dari Turgot (1726-1781) sebagai orang yang berjasa terhadap sosiologi, ia mengambil bagian penting dalam pertumbuhan filsafat Positivisme yang nantinya merupakan metode untuk menyusun sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
Turgot merumuskan 3 fase pertumbuhan alam pikiran manusia, yaitu:
1. Tingkatan alam pikiran mistik keagamaan yang berpangkal pada suatu khayal.
2. Tingkatan alam pikiran metafisika
3. Tingkatan ilmu pengetahuan pengalaman (empiris) berdasarkan kenyataan- kenyataan (tingkatan alam pikiran positif).
 Sosiologi pada fase keempat, ciri utamanya adalah keinginan untuk bersama-sama memberikan batas yang tegas tentang obyek sosiologi, sekaligus memberikan / memiliki pengertian- pengertian dan metode-metode sosiologi yang khusus. Tokoh – tokoh atau pelopor sosiologi yang otonom dalam metodenya ini berada pada akhir abad 18 dan awal 19 antara lain adalah Fichte, Novalis, Adam Muller, Hegel, dan lain-lain.

E. Sejarah Singkat Sosiologi Pendidikan
Sejarah sosiologi pendidikan tidak terlepas dari situasi sosiologi dari zaman ke zaman. Adalah August Comte yang dianggap sebagai bapak sosiologi yang telah menanamkan dasar-dasar sosiologi yang sangat kuat. Beberapa buku tentang sosiologi telah ditulisnya, dan yang termasyur adalah buku Positive Psychologi. Dalam beberapa bukunya Auguste Comte telah menulis tentang pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat. Selanjutnya, sosiologi berhasil mencuri hati para ilmuan, diantaranya. Herbert Spencer dari inggris yang telah banyak menulis buku, diantaranya Principle of Sosilogy. Setengah abad kemudian, sosilogi berkembang dengan cepat dalam abad 20, terutama di Perancis, Jerman dan Amerika.
Sosilogi sangat berpengaruh setelah dikembangkan oleh beberapa ahli seperti, Karl Max (Jerman), Vil Fredo Pareto (Itali), Pitirn A. Sorokin (Rusia), Laster F. Word (Amerika Serikat). Pengaruh sosiologi bukan hanya di Eropa, tetapi sudah merambah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu pengaruh sosiologi terhadap aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan adalah Lester frank Word (1841-1931) salah seorang pelopor sosiologi di Amerika Serikat, yang di anggap sebagai pencetus gagasan tentang lahirnya sosilogi pendidikan. Tujuan utamanya adalah untuk membentuk suatu sistem sosilogi yang akan menyempurnakan kesejahteraan umum manusia. Kemudian, teorinya ini terkenal dengan evolusi sosial yang menekankan peranan pendidikan social yang realistis dalam memimpin perencanaan kehidupan pemerintah.
Gagasan ini tersusun dalam karyanya Applied Sociology (sosilogi terapan) yang khusus mempelajari perubahan-perubahan masyarakat karena usaha manusia. Menurutnya kekuatan dinamis dalam gejala social adalah perasaan yang terdiri dari beberapa kepentingan. Rasa lapar dan rasa cinta merupakan kekuatan individu, karena interaksi, kemudian berubah menjadi kekuatan sosial. Kekuatan sosial mempunyai kekuatan untuk mengerakkan kecakapan-kecakapan manusia dalam memenuhi kebutuhannya.
Perkembangan sosiologi pendidikan semakin pesat, sehingga pada tahun 1916, universitas New York dan Colombia mendirikan jurusan sosiologi pendidikan. Pada tahun 1917 buku pelajaran sosiologi pendidikan pertama kali diterbitkan, yang disusun oleh Walter R. Smith dengan judul Introduction to Educational Sociology . pada tahun 1923, dibentuk himpunan sosiologi pendidikan oleh kongres himpunan sosiologi Amerika. Dan sejak itu diterbitkan buku tahunan sosiologi pendidikan . pada tahun 1928, terbit jurnal sosiologi pendidikan, The Journal of Education Sosiology di bawah pimpinan E. George Payne, dan disusul oleh majalah Social Education yang diterbitakan pada tahun 1936.
Dalam perkembangan selanjutnya, mulai tahun 1938-1947 sosiologi pendidikan mengalami kumadegan . faktor yang menyebabkan kumadegan adalah sosiologi pendidikan yang digantikan oleh kuliah-kuliah dalam sosiologi. dengan alasan bahwa bagi pendidikan guru lebih berguna bila diberi sosiologi daripada diberi kuliah khusus mengenai sosiologi pendidikan. Pada masa-masa stagnan ini, yang dapat dilakukan hanya review of educational research pada tahun 1940. Selain review juga artikel-artikel yang mempunyai hubungan dengan sosiologi pendidikan.
Untuk membangkitkan kembali sosiologi pendidikan, maka pada tahun 1943 sampai dengan 1945, Institut sosiologi di London menyelenggarakan konferensi- konferensi tentang sosiologi dan pendidikan. Berkat konferensi tersebut, pada tahun-tahun berikutnya, munculnya begitu banyak buku pendidikan yang diwarnai sudut pandang sosiologi. Clarke menerbitkan buku berjudul Freedom in the Educative Sosiology pada tahun 1948. Kemudian pada tahun 1950 WAC. Steward menulis sebuah artikel penting yang dimuat pada Sociology in the Training of Teacher, dimana artikel tersebut dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan kurikulum pendidikan guru.
Pada tahun 1960, sosiologi pendidikan mendapat perhatian yang luar biasa. Para mahasiswa melimpah ruah, perekonomian melaju naik, dan pembaharuan dapat diraih melalui proses politik yang ada. Pada tahun 1965, partai buruh di Inggris mempercepat proses peralihan yang lamban ini kearah pendidikan yang lebih komprehensif dalam rangka untuk menghilangkan ketidaksamaan kesempatan. Di Amerika, sedang terjadi perang melawan kemiskinan dan sudah ditemukan jalan keluarnya. Colemen dengan sigap mengadakan penelitian tentang prestasi pendidikan dan fasilitas-fasilitas pendidikan yang tersedia.
Pada tahun 1962, Steward mempublikasikan buah pikiran ahli sosiologi pendidikan Manheim dengan judul An Introduction 10th Sociology of Educational, artikel pemikiran Manheim ini berisi tentang materi yang harus di kuliahkan pada lembaga pendidikan guru. Materi tersebut antara lain :
1. Sosiologi untuk guru :
a. Sifat manusia dan tata social
b. Impak kelompok-kelompok sosial terhadap individu
c. Struktur sosial
2. Sosiologi pendidikan
a. Sekolah dan masyarakat
b. Sosiologi pendidikan dan aspek-aspek historinya
c. Sekolah dan tata sosial
3. Sosiologi mengajar
a. Interpretasi sosiologi terhadap kehidupan sekolah
b. Hubungan guru dan murid
c. Masalah-masalah organisasi sekolah
Pada tahun 1966, Coleman menyampaikan laporan penelitian tentang kesenjangan penyediaan fasilitas-fasilitas pendidikan. Ternyata orang makin melihat bahwa sumber ketimpangan itu sebagai hal yang terletak di luar sekolah. Kesadaran ini menyebabkan orang sanksi terhadap peran sekolah untuk dapat menciptakan keadilan yang cukup besar.
Pada tahun 1967, di Indonesia telah disusun kurikulum pendidikan guru. ST. Vembriarto mengusulkan agar sosiologi pendidikan dicantumkan dalam kurikulum jurusan didaktik dan kurikulum fakultas ilmu pendidikan IKIP Yogyakarta. Usul Vembriarto diterima dan pada tahun yang sama, mata kuliah sosiologi diberikan.
Pada tahun 1970, di Inggris di adakan konferensi oleh British Sociological Association yang berlangsung di Durham yang membawa harapan baru. Setahun kemudian MFD Young menerbitkan sebuah bunga rampai: Knowledge and Culture yag didalamnya terkandung dua makalah yang disampaikan dalam konferensi British.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa sosiologi pendidikan, baik dilihat dari sudut usia, lapangan penelitian, maupun dari sudut struktur dan prosesnya, merupakan disiplin ilmu yang masih muda. Namun demikian, para ahli optimis bahwa sosiologi pendidikan secara bertahap dan sedikit demi sedikit berkembang dari statusnya yang belum pasti menuju status yang pasti, yaitu menjadi disiplin ilmu yang otonom dan memiliki lapangan penelitian khusus. Hal ini didasarkan atas beberapa alasan, diantaranya:
1. Sosilogi pendidikan merupakan pengembangan dari dua disiplin ilmu yang sudah mapan, bahkan sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat modern, yaitu sosilogi dan pedagogik.
2. Lahirnya sosilogi pendidikan tidak pernah dipaksakan dan direkayasa, tetapi lahir dari kebutuhan kehidupan masyarakat modern.
3. Sosiologi sangat dibutuhkan pendidikan dan pendidikan tidak pernah surut, mundur, dan diabaikan. Dunia modern selau membutuhkan pendidkan sehingga ilmu pendidikan tidak akan pernah mati.
4. Sosiologi pendidikan sejaan dengan fitrah manusia dan manusia semakin berkembang.
5. Perkembangan ilmu pengetahuan yang telah mencapai kemajuan, akan melahirkan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan yang baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar